Membangkitkan Energi Qolbu

Membangkitkan Energi Qolbu

Membangkitkan Energi Qolbu
Mengerti yang akan terjadi
Penulis : Imam Ghazali
Ukuran buku : 14,5 cm x  20,5 cm tebal : 384 halaman
Sampul depan : Soft Cover
Penerbit : Mitrapress – Surabaya
ISBN : : 978-979-17230-0-8
Harga Rp. 23.500,-

Sinopsis :

Qolbu itu sesuatu paling utama. Sesungguhnya manusia siap untuk berma’rifat (mengetahui Allah SWT. dan yang gaib) dengan qalbunya, tidak dengan salah satu anggota badannya. Karena itu qolbu jua yang berbuat karena Allah. Dialah (qolbu) yang berusaha mendekat kepadaNya. Qolbu pula yang menyingkap apa yang ada di sisiNya.

Anggota tubuh kita hanyalah sebagai pengikut, pelayan dan alat yang dipekerjakan oleh hati. Tangan, kaki, otak, mata, telinga, mulut dan sebagainya adalah bagian yang patuh jika disuruh oleh qolbu. Artinya, yang bertanggungjawab terhadap Allah adalah ‘pimpinannya’. Ketika kiamat di Yaumil Hisab, qalbulah yang berhadapan dengan pengadilan Ilahi. Jika selamat, maka qolbu jua yang diterima di sisi Allah. Sementara anggota tubuh telah hancur berkalang tanah.

Qolbu menjadi terdinding (terhalang) dalam berma’rifat kepada Allah jika anggota badan berbuat maksiat. Atau, jika qolbu itu sendiri tenggelam kepada selain Allah.
Qolbu yang diajak bicara oleh Allah. Qolbu yang merasakan bahagia karena kedekatannya terhadap Tuhan. Atau, justru dia yang mendapat cacian dan laknat.
Jika berbuat buruk (jahat), maka yang menyesal adalah qolbu. Dia yang celaka karena mengotorinya dan merusakkannya dengan penyakit-penyakit hati.
Secara hakikat, ketaatan kepada Allah itu terletak pada qolbu. Sesungguhnya yang tersebar terhadap anggota badan dalam melakukan ibadah merupakan cahaya-cayahanya. Bila qolbu telah terbangkitkan energinya, cahaya kebaikannya memancar ke seluruh anggota tubuh. Karena itu, sehingga anggota tubuh tergerak untuk beramal taat.
Sebaliknya, kita menjadi sombong dengan menggunakan media anggota badan dikarenakan keadaan qolbu yang kotor. Perbuatan-perbuatan keji dan buruk dikarenakan qolbu yang tidak suci atau gelap.
Orang yang tidak mengenal qalbunya, ia tidak bisa mengintai dirinya, tidak bisa memeliharanya dan tidak mampu mengintip sesuatu yang tersimpan di alam malakut. Orang demikian ini dikatagorikan sebagai hamba yang lupa.